Makassar Terancam Krisis Air Tanah
Makassar - Sekretaris Dinas Daya Sumber Daya Mineral Propinsi Sulawesi Selatan Syamsul Bachri menjelaskan Kota Makassar terancam krisis air tanah 15 tahun yang akan datang.
Menurut Syamsul, ancaman ini ada karena diketemukan intrusi air laut dari samping barat Makassar yang masuk lokasi permukiman, seperti di Jalan Jenderal Sudirman. Bahkan juga kedalaman intrusi air laut di lokasi industri di belakang Pasar Daya, Kecamatan Biringkanaya, Pasar Daya Baru, serta Bandara Sultan Hasanuddin telah sampai 80 mtr..
Dia menuturkan, intrusi air laut ialah masuknya air laut ke pori-pori tanah hingga membuat air yang dipakai penduduk jadi asin. Semenjak 2009 sampai sekarang ini, intrusi air laut selalu di teliti. Serta akhirnya, tingkat keasinan air di permukiman naik 20 % setiap tahun.
"Kami ikut temukan penurunan muka air tanah di lokasi industri Makassar sebesar 3 mtr. saat 10 tahun. Ini semua karena pemungutan air tanah pada sumur bor yang terlalu berlebih. Jika dengan tehnik, harusnya optimal satu sumur 2 liter per detik. Jika terlalu berlebih pemungutan dapat menyebabkan makin turunnya permukaan air tanah," katanya.
Penurunan muka air tanah akan meneror tersedianya air tanah wajar mengkonsumsi oleh penduduk Makassar.
Untuk menghadapi ancaman krisis ini, Syamsul minta lembaga berkaitan, seperti Tubuh Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar, mesti bisa pastikan perizinan pembuatan sumur bor ikuti ketentuan. Dia memberikan contoh, kedalaman sumur bor di hotel-hotel mesti lebih dari 100 mtr.. Menambahkan sumur bor harus juga di stop.
Menurutnya, keperluan penduduk Makassar akan air tanah 60-70 %. Bekasnya, dipenuhi dengan perusahaan daerah air minum.
Syamsul memberikan, tidak hanya batasi pembuatan sumur bor, pemerintah harus perbanyak sumur resapan atau biopori, yang dapat dibikin di sudut-sudut bangunan. Pembuatan sumur resapan serta danau bikinan dapat perbanyak air permukaan yang masuk ke tanah.
Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menjelaskan belumlah tahu hasil riset itu. Karenanya, ia tidak mau tergesa-gesa memutuskan.
Saya belumlah tahu itu. Kelak akan dicari tahu. Ini mesti dibuktikan dengan data. Jika memang lalu akhirnya memang benar ada, akan dibicarakan kembali," katanya (sumber: Tempo.co)

Komentar
Posting Komentar